Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

Libur Lebaran Bersama Lima Film Tanah Air


Jakarta - Sudah siap menyambut libur lebaran? Bagi anda yang tidak mudik keluar kota, pergi ke bioskop bisa menjadi cara untuk mengisi momen libur setelah hari raya Idul Fitri. Ada lima film Tanah Air yang patut anda saksikan. Berikut datar film-film yang rilis di momen Lebaran.

Sabtu Bersama Bapak





Diadaptasi dari novel laris karya Adhitya Mulya, 'Sabtu Bersama Bapak' menjadi salah satu film yang akan mengisi momen lebaran. Film ini menjadi kisah tentang sosok ayah yang sempurna. Diperankan oleh Abimana Aryasatya, Arifin Putra, Ira Wibowo, juga Acha Septriasa, 'Sabtu Bersama Bapak' bercerita tentang seorang bapak yang tetap hidup dan membimbing anak-anaknya. Digarap oleh sutradara Monty Tiwa, film ini diproduksi oleh Max Pictures.

Jilbab Traveler Love Sparks in Korea



Masih dari novel, 'Jilbab Traveler' menjadi film Indonesia terbaru yang dirilis di momen hari raya. Ceritanya diadaptasi dari novel karya Asma Nadia yang mengisahkan tentang gadis bernama Rania seorang penulis yang gemar melakukan travelling ke berbagai tempat. Ketika Ayahnya sakit, Rania memutuskan pulang. Namun Sang Ayah malah memberikan misi pada Rania mengunjungi Baluran, alam yang luar biasa indah di timur pulau Jawa, tempat dimana Ayah dan Ibunya dulu menemukan cinta

Di sana, Rania bertemu dengan seorang fotografer asal Korea. Pertemuan itu membawa hati dan jiwa Rania dalam sebuah 'perjalanan baru'. Perjalanan yang membawanya pada dua pilihan. Film ini dibintangi Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, juga Giring Nidji.

I Love You From 38.000 Feet





Drama remaja 'I Love You From 38.000 Feet' menjadi salah satu film yang juga mengisi layar bioskop di momen liburan pekan mendatang. Aktris Michelle Ziudith dan Rizky Nazar menjadi bintang yang filmnya bercerita tentang cinta dan harapan yang dimiliki seorang tokoh bernama Aletta.

Digarap oleh rumah produksi Screenplay Films, 'ILY From 38.000 Feet' disutradarai oleh Asep Kusdinar dan dibintangi juga oleh Tanta Ginting dan Derby Romero

Koala Kumal





Raditya Dika kembali mengadaptasi novelnya ke layar lebar. Kali ini drama komedi berjudul 'Koala Kumal' siap tayang di bioskop. Radit beradu akting dengan Acha Septriasa. Untuk kesekian kalinya, ia berperan sebagai cowok yang selalu gagal dalam soal asmara.

Pertemuannya dengan Trisna (Sheryl Sheinafia) membuat Radit kembali memiliki harapan. Dapatkah ia menemukan cinta baru? Film ini juga dibintangi aktor Nino Fernandez dan beberapa stand up comedian papan atas Tanah Air.

Rudy Habibie





Dari 'Habibie & Ainun', MD Pictures menggarap kembali film tentang Habibie dalam 'Rudy Habibie'. 'Rudy Habibie' menjadi kisah tentang perjalanan hidup seorang Habibie muda. Saat-saat di mana Habibie menimba ilmu di Jerman sebelum bertemu dengan sosok Ainun.

Proses syutingnya dilakukan tak hanya di Indonesia namun juga Jerman. Proses sound mixing film garapan produser Manoj Punjabi ini juga dilakukan di Amerika Serikat.

Bagi anda penyuka film-film bertema inspiratif, jangan lewatkan film ini yang dibintangi Reza Rahadian, Chelsea Islan, Pandji Pragiwaksono, juga Ernest Prakasa ini.

Sumber : http://hot.detik.com/movie/3248050/libur-lebaran-bersama-lima-film-tanah-air

Rabu, 11 November 2015

Hubungan Film The God Must Be Crazy dengan materi Ilmu Budaya Dasar

Halo… Kali ini saya akan menghubungkan film The God Must Be Crazy dengan salah satu materi dari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Seperti yang sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya mengenai resensi film The God Must Be Crazy, film ini menceritakan kisah sebuah suku di Gurun Kalahari, Afrika Selatan. Film ini sangat kental dan berhubungan dengan materi mata kuliah Ilmu Budaya Dasar seperti Manusia dan Budaya, Manusia dan Penderitaan, Manusia dan Peradaban, Manusia dan Lingkungan, dll. Namun kali ini saya akan membahas hubungan film ini dengan materi Manusia dan Penderitaan.

Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah merasakan penderitaan. Baik ringan atau berat. Baik manusia dalam kehidupan modern maupun manusia dalam suku terasing sekalipun. Dalam film The God Must Be Crazy pun terlihat beberapa penderitaan yang dialami para tokoh dalam film tersebut.

Yang pertama adalah penderitaan yang dirasakan suku Bostwan di Afrika Selatan setelah mereka memiliki sebuah alat berupa botol kaca yang seharusnya membantu pekerjaan mereka tetapi malah membuat malapetaka pada kehidupan mereka karena botol kaca tersebut hanya berjumlah satu dan seluruh anggota suku merasa ingin memilikinya. Dari hal kecil ini, suku Bostwan mengalami penderitaan karena antar anggota suku yang tadinya hidup damai dan saling membantu, menjadi hidup dalam rasa iri bahkan timbul kekerasan.


Yang kedua adalah penderitaan yang dialami Xi, seorang anggota suku Bostwan. Xi yang melakukan perjalanan untuk membuang botol kaca yang membuat malapetaka di sukunya mengalami beberapa penderitaan. Seperti di pidana karena telah memburu hewan ternak, dan perasaan bingung karena perjalanan yang ia lakukan bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan mental dan budaya.



Yang ketiga adalah penderitaan dari kalangan modern. Dalam kasus yang di derita kalangan modern, manusia modern tanpa disadari mengalami penderitaan akibat apa yang mereka ciptakan sendiri. manusia modern tidak berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi memaksa lingkungan untuk menyesuaikan dengan mereka. Bagaikan orang yang meminum air laut, semakin banyak yang ia minum maka semakin haus. Semakin orang berusaha mengatasi kerepotan mereka dengan ilmu dan berbagai macam peralatan, semakin repot juga mereka dibuatnya. Penderitaan yang dialami kalangan modern ialah waktu dan keserakahan.

Selasa, 10 November 2015

Resensi Film : The God Must Be Crazy

Hai semua……ini adalah pertama kalinya saya mengisi tulisan di blog ini. Sesuai rekomendasi dari dosen Ilmu Budaya Dasar, Ibu Nur Putri Erdianti, saya akan meresensi sebuah film komedi yang sangat fenomenal. Tapi film ini bisa dibilang sangat jadul loh, karena film ini dirilis tahun 1980. Wah…. sudah lama sekali ya hehehe…… by the way, film apa sih yang akan saya resensi? Film yang akan saya resensi adalah The God Must Be Crazy! Mau tau se-fenomenal apa film ini? Yuk baca resensinya di bawah ini.


The God Must Be Crazy adalah film bergenre komedi yang mengambil lokasi di Botswana dan Afrika Selatan. Film yang bercerita tentang pengalaman Xi, seorang anggota suku bostwan yang hidup di Gurun Kalahari ini disutradarai dan ditulis oleh Jamie Uys. Film ini dirilis tahun 1980 di Afrika Selatan dan tahun 1982 di Amerika Serikat.

Film ini berawal dari perbandingan antara kehidupan manusia modern dengan kehidupan sebuah suku bernama Bostwan di Gurun Kalahari, Afrika Selatan. Kehidupan manusia modern dinarasikan sebagai kehidupan yang sibuk, individualis, konsumtif, dan sangat kompleks. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing dengan menggunakan peralatan-peralatan canggih ciptaanya. Sedangkan kehidupan sebuah suku terasing di Gurun Kalahari, Afrika Selatan sangatlah sederhana. Mereka hidup dengan gotong royong dan saling membantu. Tidak ada perasaan iri sama sekali. Setiap anggota suku hidup dengan bahagia.

Suatu hari, seorang pilot yang sedang terbang dengan pesawatnya iseng membuang sampah berupa botol kaca coca-cola. Dan kebetulan botol tersebbut jatuh di Gurun Kalahari dan ditemukan oleh Xi. Karena botol tersebut jatuh dari langit, maka dipercaya oleh semua anggota suku sebagai benda yang dikirim oleh Tuhan.

Botol kaca tersebut ternyata memiliki banyak kegunaan. Mulai dari menyembuhan jari, alat musik, hingga untuk menghaluskan kulit ular. Namun, masalah muncul dari benda tersebut karena benda tersebut hanya ada satu, sedangkan seluruh anggota suku membutuhkannya bahkan menjadi ingin memilikinya. Dari masalah tersebut mereka mengalami masalah yang seelumnya belum pernah mereka hadapi, seperti rasa iri, permusuhan, bahkan kekerasan. Maka, seluruh anggota suku berpikir bahwa Tuhan pasti sudah gila karena telah mengirimkan mereka benda tersebut. Demi menghilangkan masalah tersebut, Xi mengajukan diri untuk membuang benda tersebut ke ujung dunia. Akibatnya, Xi harus melakukan perjalanan jauh dan mengalami perjalanan fisik, budaya, dan mental.

Dalam perjalanan tersebut, Xi bertemu dengan peradaban barat (manusia modern). Mulai dari manusia berambut pirang yang dia pikir adalah Tuhan, hingga mobil yang dia pikir adalah binatang dengan roda. Bahkan, Xi pun sempat di pidanan karena membunuh domba milik orang.


Perjalan Xi berakhir di puncak gunung diatas awan. Xi beranggapan bahwa inilah ujung dunia. Xi mengambil kesimpulan bahwa ini adalah tempat untuk dia membuang botol kaca tersebut. Akhirnya, Xi melemparkan botol kaca tersebut dari ujung puncak gunung dan misi Xi selesai.

Menurut saya, film The God Must Be Crazy ini adalah film yang sangat bagus dan menghibur. Film ini menyadarkan kita bahwa selama ini kehidupan modern telah membutakan kita. Kita terlihat serakah dan konsumtif. Kita juga menjadi bergantung kepada alat-alat canggih yang dikatakan memudahkan pekerjaan kita padahal kita malah dibuat semakin repot karena ilmu dan peralatan yang dibikin makin banyak, dan kerepotan pun makin bertambah Saya pernah membaca sebuah pepatan yang menyebutkan “bagai meminum air laut”. Semakin banyak yang kita minum, maka semakin hauslah kita.